Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Presiden Ajak Pengusaha Jerman Investasi di Indonesia

Jakarta, 19/04/2016 Kemenkeu - Di hadapan para pengusaha dari Indonesia dan Jerman, Presiden Joko Widodo menegaskan komitmen untuk meningkatkan kerja sama ekonomi kedua negara. Hal ini ia sampaikan saat menghadiri Forum Bisnis Indonesia-Jerman di Berlin pada Senin (18/4), di sela kunjungan kerjanya ke Uni Eropa.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden menyatakan bahwa berdasarkan data Asian Development Bank, minat untuk berinvestasi di Indonesia saat ini berada pada titik tertinggi sepanjang sejarah. Hal ini antara lain karena Indonesia berhasil menunjukkan ketahanan ekonomi, bahkan pertumbuhan yang relatif tinggi di tengah berbagai tantangan ekonomi global. Pada triwulan IV-2015, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia bahkan tumbuh hingga 5,03 persen.

“Saya yakin Indonesia telah memiliki perekonomian yang stabil,” kata Presiden sebagaimana dikutip dari laman Sekretariat Kabinet. Stabilitas ekonomi Indonesia, lanjutnya, dapat dicapai karena pembangunan infrastruktur dan investasi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia telah menunjukkan hasil nyata.

Presiden juga meyakinkan para pengusaha Jerman untuk dapat berinvestasi di Indonesia, karena Pemerintah Indonesia bertekad untuk terus memperbaiki iklim investasi. “Saya akan terus mereformasi, saya akan terus menyederhanakan perizinan, saya akan membuat perekonomian Indonesia terbuka,” kata.

Sebagai informasi, Forum Bisnis Indonesia-Jerman mempertemukan investor dan pemerintah kedua negara untuk membicarakan investasi jangka panjang. Peningkatan kerja sama ekonomi menjadi fokus utama dengan prioritas pada penyelesaian perundingan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan Uni Eropa.

Selain itu, dalam rangkaian kunjungan kerja ke Jerman yang juga diikuti oleh 42 delegasi pengusaha Indonesia ini, telah ditandatangani sejumlah kesepakatan kerja sama antara perusahaan-perusahaan di kedua negara. Total nilai kesepakatan tersebut mencapai 845,6 juta dolar Amerika Serikat, antara lain oleh PT Aneka Tambang dengan Ferrostaal; PT Pelni dengan Meyer Werft; PT Pindad dengan Junggans Microtech; APRIL dengan Inapa; dan PT PLN dengan Siemens.(nv)