Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

R and I Kembali Tetapkan Peringkat Layak Investasi Untuk Indonesia

Jakarta, 06/04/2016 Kemenkeu - Lembaga pemeringkat asal Jepang, Rating and Investment Information, Inc. (R&I) kembali mengafirmasi peringkat Indonesia pada level layak investasi (investment grade) pada Senin (4/4). R&I memberikan afirmasi Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada BBB-/stable outlook. Sebelumnya, R&I telah melakukan afirmasi atas Sovereign Credit Rating Indonesia pada BBB- /stable outlook pada 18 Maret 2015.

Dalam keterangan persnya, R&I menyebut beberapa faktor kunci yang mendukung keputusan afirmasi bagi sovereign credit rating Indonesia adalah perekonomian yang tetap stabil di tengah ketidakpastian eksternal yang masih berlanjut, serta kebijakan moneter yang akomodatif dan kebijakan fiskal yang proaktif yang akan menjadi pendukung pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, defisit fiskal dipandang rendah, dengan kondisi fiskal yang terkendali. Likuiditas valuta asing (valas) juga terjaga melalui kebijakan bank sentral dan kecukupan cadangan devisa yang baik, meskipun utang luar negeri swasta non-bank tetap perlu dicermati.

R&I menilai, perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik Indonesia yang terjadi pada tahun 2015 disebabkan oleh ketidakpastian pada ekonomi dan keuangan global. Namun demikian, R&I memprediksi pada tahun 2016 perekonomian domestik akan didorong oleh belanja pemerintah sebagai roda penggerak perekonomian dan peningkatan konsumsi rumah tangga sebagai dampak dari pelonggaran kebijakan moneter bank sentral.

R&I juga memandang positif komitmen pemerintah dalam melakukan reformasi struktural, termasuk reformasi subsidi energi. Reformasi subsidi tersebut dinilai telah memberikan ruang bagi sektor fiskal untuk dapat meningkatkan alokasi pengeluaran terkait penyediaan infrastruktur dan sektor produktif lainnya, sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih tinggi.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo menyatakan, ketahanan perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian perekonomian dan volatilitas keuangan global telah diakui oleh berbagai lembaga pemeringkat. “Selanjutnya, jalinan koordinasi yang semakin sinergis antara kebijakan moneter dan fiskal merupakan faktor utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih sehat seiring dengan upaya reformasi struktural yang sedang berlangsung,” jelasnya sebagaimana dikutip dari laman BI.(nv)