Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Reformasi Struktural Dapat Stabilkan Pasar

Jakarta, 20/08/2013 MoF (Fiscal) News – Menteri Keuangan (Menkeu) M. Chatib Basri menyatakan bahwa berbagai pembenahan secara struktural untuk menekan defisit transaksi berjalan dapat menciptakan stabilitas pasar keuangan yang saat ini sedang bergejolak. “Beberapa problem harus dihadapi melalui struktural reformasi, misal kalau defisit transaksi berjalan ada persoalan, transaksi modal dan finansial harus bagus,” kata Menkeu.

Salah satu reformasi struktural yang dapat dilakukan, lanjut Menkeu, adalah dengan mengurangi defisit transaksi berjalan dengan memperbaiki kinerja penanaman modal asing serta menjaga iklim investasi. “Saya sudah minta revisi daftar negatif investasi dipercepat, kemudian melakukan simplifikasi peraturan sehingga penanaman modal asing bisa dilakukan,” ungkap Menkeu.

Ia juga mengungkapkan bahwa defisit transaksi berjalan akan semakin mengecil pada triwulan III-2013. “Impor minyak ini akan lebih kecil dalam triwulan tiga. Indikatornya sampai dengan Juli, konsumsi BBM di bawah yang biasanya, karena harga BBM dinaikkan. Di triwulan dua, angka defisit masih cukup tinggi, karena BBM baru naik 22 Juni,” jelas Menkeu.

Upaya lain yang dapat dilakukan pemerintah adalah dengan menyiapkan anggaran melalui ruang fiskal untuk belanja infrastruktur dan memperbaiki sistem logistik untuk distribusi barang agar supply dapat tetap terjaga. “Kalau logistik di-push akan ada perbaikan, karena persoalan kita ada di-supply, bukan karena sisi permintaan yang selalu tinggi, tapi ada supply side, terutama BBM naik, birokrasi,” ujar Menkeu.

Menkeu menambahkan bahwa pembenahan struktural ini merupakan antisipasi secara internal yang dapat dilakukan. Hal ini dikarenakan, defisit transaksi berjalan yang relatif tinggi hingga pertengahan tahun berpotensi menyebabkan anjloknya bursa saham dan pelemahan rupiah.

Namun, melemahnya rupiah dan turunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), menurut Menkeu, juga terjadi karena pengar uh eksternal, terutama karena adanya kemungkinan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) melakukan penarikan Quantitative Easing, serta kekhawatiran atas kasus Merrill Lynch dan Bank of America. “Itu dari segi eksternalnya yang kemudian men-drive stock market kemudian capital market dan nilai tukar jatuh,” pungkas Menkeu.(nic)