Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Rupiah Diyakini Segera Menguat

Jakarta, 14/06/2013 MoF (Fiscal) News – Menteri Keuangan (Menkeu) M. Chatib Basri menyatakan bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hanya berlangsung sementara. Pemerintah optimistis rupiah akan kembali stabil setelah Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2013 disahkan oleh parlemen dan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dinaikkan. 

Menkeu menjelaskan bahwa defisit terbesar dari neraca perdagangan adalah karena impor minyak dan gas bumi (migas). Bila harga BBM dinaikkan, perbedaan harga antara domestik dan internasional akan mengecil. Dengan demikian, penyelundupan BBM diperkirakan tidak akan terjadi lagi, karena tidak terlalu menguntungkan pelaku penyelundupan. “Kalau penyelundupan berkurang, konsumsinya berkurang, maka defisit dalam transaksi atau neraca akan mengalami pengurangan, rupiahnya menguat,” kata Menkeu. 

Kementerian Keuangan sendiri telah melakukan koordinasi dengan Bank Indonesia dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk melakukan langkah-langkah pengamanan. Koordinasi ini dilakukan menyangkut stabilisasi nilai tukar rupiah. Menkeu menambahkan, komunikasi intensif dengan pasar akan tetap dipelihara untuk memberikan perkembangan informasi mengenai proses pembahasan RAPBN-P yang sedang dilakukan oleh pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). 

Ia menambahkan, Indonesia bukan negara dengan pelemahan kurs mata uang terendah di kawasan regional. “Kurs terakhir kemarin sudah sekitar Rp9.800-an, di pasar saham memang ada koreksi 167 poin atau minus 3,5 persen. Tetapi, Indonesia bukan yang terburuk, karena yang terburuk kemarin itu Bangkok dan Manila, di atas 4,5-4,9 persen,” kata Menkeu.

Pelemahan kurs rupiah, lanjut Menkeu, terjadi karena tiga alasan. Pertama, rencana Bank Sentral AS, The Fed untuk menarik kebijakan stimulus perekonomiannya. Kedua, Bank Sentral Jepang kemarin memutuskan untuk tidak melanjutkan kebijakan stimulus moneternya. Ketiga, Bank Sentral Eropa juga telah mengumumkan langkah yang sama.(nic)