Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Rupiah Tunjukkan Tren Penguatan

Jakarta, 19/02/2014 MoF (Fiscal) News – Nilai tukar rupiah dalam dua pekan terakhir cenderung mengalami penguatan, dengan kembali menyentuh kisaran Rp11.000 per dolar Amerika Serikat (AS), atau kembali seperti sebelum 10 Desember 2013. Pada transaksi antarbank di Jakarta Rabu pagi (19/2), rupiah bergerak menguat 68 poin ke posisi Rp11.805 per dolar AS.


Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra di Jakarta pada Rabu (19/2) mengatakan, menjelang hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), dolar AS cenderung melemah terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah. "Hasil rapat FOMC akan dirilis Kamis pekan ini, diharapkan sentimennya positif terhadap mata uang negara berkembang," katanya.


Ia mengemukakan bahwa hasil FOMC ditunggu karena pasar keuangan global ingin mengetahui perdebatan atau diskusi Bank Sentral AS (The Fed) dalam pengambilan keputusan tapering off. "Bila (The) Fed masih mengkhawatirkan soal tingkat inflasi yang rendah dan penurunan tingkat pengangguran yang semu, tentunya (The) Fed tidak akan agresif melanjutkan tapering-nya. Dan ini bisa mendorong dolar AS melemah," ungkapnya.


Sementara itu, Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro berharap, penguatan nilai tukar rupiah akan berlanjut, mengingat defisit transaksi berjalan juga diprediksi terus menipis. ”Akan tetapi, masih ada tekanan sentimen dari Amerika Serikat, sehingga penguatan rupiah masih bisa tertahan juga,” kata Andry yang diwawancarai oleh media nasional. Sentimen dari AS tersebut berupa pengurangan stimulus moneter dan kemungkinan naiknya suku bunga obligasi. Bank Mandiri sendiri memperkirakan, nilai tukar rupiah akan mencapai Rp11.400 per dolar AS pada akhir tahun 2014.(nic)