Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memaparkan capaian kinerja APBN 2017 dalam acara Konferensi Pers di aula Djuanda kantor pusat Kemenkeu (02/01)

Serapan 2017 Meningkat Di Atas 90 Persen, Ini Outputnya

Jakarta, 03/01/2017 Kemenkeu - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan tingkat serapan belanja negara tahun 2017 baik belanja modal maupun belanja barang naik rata-rata di atas 90%, bahkan  belanja sosial terserap sebesar 100%.

“Dari sisi belanja belanja negara mencapai Rp2001,6 triliun. Ini adalah 93,8% dari total belanja APBN 2017. Yang positif adalah belanja modal yang mencapai 92,8% dibandingkan tahun 2016 yang hanya terealisir 82%. Tahun 2015 hanya 85,2%. Jadi, penyerapan dan eksekusi belanja tahun 2017 jauh lebih baik. Belanja barang meningkat realisasinya mencapai 96,8%. Kalau dibandingkan tahun 2016, belanja barang hanya terserap 85,3%. Tahun 2015 hanya 89,8%. Jadi, penyerapan 2015-2016 di bawah 90%. Tahun 2017 belanja sosial mencapai 100%. Belanja pemerintah pusat Rp1.259,6 triliun atau 92,1% dari APBN-P,” jelasnya.

Penyerapan yang meningkat ini menghasilkan output berupa pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, bandara dan rel kerta api. Di bidang pendidikan, outputnya dalam bentuk Kartu Indonesia Pintar, Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan penyaluran beasiswa Bidik Misi. Sedangkan di bidang kesehatan dan perlindungan sosial terwujud dalam bentuk manfaat Kartu Indonesia Sehat dan Program Keluarga Harapan (PKH).

“Beberapa outputnya infrastruktur telah dibangun jalan 794 km, jembatan 9.072 meter, pembangunan bandara ada 3, dan lanjutan bandara multi years ada 8 bandara, rel kereta api telah dibangun 618,3 km. Pendidikan, untuk penyaluran Kartu Indonesia Pintar mencapai 19,8 juta siswa, Bantuan Operasional Sekolah untuk 8 juta siswa, penyaluran Bidik Misi untuk 364,4 ribu mahasiswa dan di bidang kesehatan dan perlindungan sosial, Kartu Indonesia Sehat mencakup 92,1 juta jiwa dan PKH penerima manfaatnya 6 juta jiwa,” paparnya. (nr/rsa)