Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Sewindu SBSN, Menkeu: Keuangan Syariah dan Konvensional Gambarkan Kebhinnekaan

Jakarta, 23/12/2016 Kemenkeu - Dalam rangka memperingati satu windu Surat Berharga Syariah Negara (Sukuk Negara), Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyelenggarakan kegiatan silaturahim stakeholders keuangan syariah di Istana Negara, Jakarta pada Jumat (23/12).

Kegiatan yang bertujuan untuk memperkuat silaturahim antara pemerintah dan stakeholders keuangan syariah ini antara lain dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, beberapa menteri terkait, pimpinan otoritas keuangan, Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), pimpinan organisasi kemasyarakatan islam, ahli keuangan syariah, pelaku keuangan syariah, dan akademisi.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, saat ini, perkembangan industri keuangan syariah di tanah air telah berjalan beriringan dengan industri keuangan konvensional. Hal ini menggambarkan kebhinnekaan di kalangan masyarakat investor. Selain itu, hadirnya industri keuangan syariah, menurutnya, juga telah memberikan alternatif pilihan instrumen investasi bagi para investor.

“Industri keuangan syariah berjalan beriringan dengan industri keuangan konvensional. Berdua, mereka berjalan secara koeksis dan mampu menentukan pilihan masyarakat untuk menentukan instrumen investasi yang sesuai dengan preferensi, dan bisa menciptakan nilai tambah bagi ekonomi,” jelasnya.

Sebagai informasi, sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 2008, perkembangan Sukuk Negara hingga saat ini tergolong sangat menggembirakan. Penerbitannya terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dengan total akumulasi penerbitan selama periode 2008-2016 mencapai Rp565,7 triliun.

“Tahun 2008 menjadi tonggak penting perkembangan keuangan syariah kita. Tahun tersebut, kita berhasil menerbitkan Undang-Undang tentang Perbankan Syariah dan Undang-Undang tentang Surat Berharga Syariah Negara,” jelas dalam sambutannya.(nv)