Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN
Menkeu Sri Mulyani Indrawati menjadi panelis dalam CNN Debate on the Global Economy How to Strengthen Global Economy dalam rangkaian kegiatan IMF-World Bank Annual Meetings 2017 di Washington DC pada Kamis (12/10).

Sri Mulyani : Pertumbuhan Belum Inklusif

Jakarta, 13/10/2017 Kemenkeu - Menteri Keuangan (Menkeu) Indonesia Sri Mulyani Indrawati, Menkeu Perancis Bruno Le Maire, Menkeu Kanada William Morneau, dan pengamat ekonomi Gita Gopinath membahas perekonomian dunia yang saat ini sedang menikmati pemulihan yang mencakup tiga perempat output global dalam CNN Debate on the Global Economy How to Strengthen Global Economy pada Kamis, (12/10) di Main Atrium HQ1, International Monetary Fund (IMF). 

"Ini akan menjadi lebih baik," Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde menjawab pertanyaan bagaimana prospek pertumbuhan global yang dimoderatori oleh presenter CNN Richard Quest. 

Lagarde menyampaikan bahwa tidak seperti tahun lalu ketika pasar negara berkembang mendorong kenaikan, kenaikan saat ini lebih seimbang. "Ini lebih luas, lebih solid dan seharusnya lebih baik. Tapi itu perlu berkelanjutan dan menguntungkan semuanya," terangnya.

Menanggapi hal tersebut, Sri Mulyani menyampaikan kekhawatiran tidak semua orang bisa menikmati dan berbagi dalam kemajuan global. "Ini belum cukup inklusif," kata Menkeu.

Dalam menanggapi pertanyaan moderator tentang apa yang akan dilakukan terlebih dahulu untuk memperbaiki "atap yang bocor", Sri Mulyani menyampaikan bahwa yang penting untuk dilakukan terlebih dahulu bukanlah memperbaiki atap yang bocor, namun dengan membangun landasan yang kuat. "Jika landasan sudah kuat, apapun bisa diperbaki," jelasnya. 

Landasan yang dimaksud Menkeu Sri Mulyani adalah bagaimana menciptakan kesempatan yang sama bagi semua orang supaya ada kemajuan. Hal ini tidak mudah karena berarti harus ada kebijakan berani untuk sektor pendidikan, kesehatan, dan layanan-layanan dasar yang fleksibel sehingga mudah dijalankan.

Menurut Menkeu, hal nyata yang bisa dilakukan dengan instrumen fiskal  untuk memperoleh pertumbuhan inklusif adalah dengan kajian lebih mendalam tentang reformasi perpajakan yang beraneka ragam. 

"Dalam pertemuan G20 beberapa waktu lalu, kami berupaya menghindari penurunan tarif pajak hanya supaya bisa menarik lebih banyak investor. Tarif pajak di Indonesia kini 25%, tapi lihat bagaimana tarif pajak Singapura yang jauh lebih kecil yaitu 17%. Kita harus menetapkan apa kebijakan fiskal yang dikehendaki, dari sisi penerimaan dan pengeluaran,"  ungkap Sri Mulyani.

Di sisi lain, akhir-akhir ini persoalan perpajakan mengemuka secara global. Hal ini berbeda dengan kondisi 10 tahun yang lalu dimana tidak ada pembahasan tax evasion.  “Sekarang kita ada kebijakan Automatic Exchange of Information (AEOI), common reporting standard dan hasilnya adalah penurunan penghindaran pajak," ujar Sri Mulyani.

Dalam debat ini, Lagarde memuji Sri Mulyani terkait isu korupsi dan pajak. "Saya akan menyampaikan hal ini secara terang-terangan karena mungkin Sri Mulyani tidak mau mengatakannya. Indonesia menghadapi isu korupsi dan pengelakan pajak yang cukup rumit. Sri Mulyani berhasil mendorong upaya untuk mengatasi kedua permasalahan itu," kata Lagarde yang disambut tepuk tangan meriah dari ratusan peserta yang memadati atrium kantor pusat IMF. (bs/nr)