Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Turun 25 Bps, BI Rate Kini 7 Persen

Jakarta, 22/02/2016 Kemenkeu - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) telah memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 25 basis points (bps) menjadi 7 persen, dengan suku bunga Deposit Facility menjadi sebesar 5 persen dan Lending Facility menjadi sebesar 7,5 persen.

Selain itu, BI juga memutuskan untuk menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) Primer dalam Rupiah sebesar 1 persen, dari 7,50 persen ke level 6,5 persen, yang berlaku efektif mulai 16 Maret 2016. Kebijakan penurunan BI Rate dan GWM Primer dalam Rupiah tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang sedang berlangsung.

BI dan pemerintah juga akan terus memperkuat koordinasi untuk memastikan pengendalian inflasi, penguatan stimulus pertumbuhan, dan reformasi struktural berjalan dengan baik, sehingga mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan ke depan, dengan tetap menjaga stabilitas makro ekonomi.

Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara, keputusan tersebut sejalan dengan ruang pelonggaran kebijakan moneter yang semakin terbuka, dengan semakin terjaganya stabilitas makroekonomi. “Khususnya penurunan tekanan inflasi di 2016, serta meredanya ketidakpastian di pasar keuangan global,” katanya dalam keterangan resmi pada Kamis (18/2) pekan lalu.

Lebih lanjut ia menambahkan, di sisi perekonomian global, pemulihan ekonomi berisiko terus melemah. Sementara itu, risiko di pasar keuangan global yang bersumber dari kemungkinan kenaikan Suku Bunga Kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Fed Fund Rate (FFR) semakin mereda.

Pemulihan ekonomi AS sendiri diperkirakan masih tertahan, seiring dengan konsumsi yang masih lemah, perbaikan sektor perumahan yang melambat dan sektor manufaktur yang masih terkontraksi. “Pemulihan ekonomi AS yang belum solid mengakibatkan perkiraan kenaikan FFR bergeser mundur pada semester II-2016 dengan besaran kenaikan yang lebih rendah,” jelasnya.

Sementara itu, Bank Sentral Eropa (ECB) masih melanjutkan kebijakan quantitave easing (QE) sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan inflasi Eropa yang masih rendah. Demikian pula dengan Bank Sentral Jepang yang mulai menerapkan kebijakan suku bunga negatif. Di sisi lain, perekonomian Tiongkok terus melambat akibat masih lemahnya sektor manufaktur dan investasi, sejalan dengan proses deleveraging yang dilakukan oleh sektor korporasi.(nv)