Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN

Untuk Jaga Stabilitas Makro-Ekonomi, Perbaikan Harus Dilakukan

Jakarta, 01/03/2013 MoF (Fiscal) News - Stabilitas makro-ekonomi Indonesia yang telah tercipta selama ini harus tetap dijaga dan masih perlu dilakukan sejumlah perbaikan. Wakil Presiden RI Boediono mengatakan, perbaikan ini salah satunya dilihat dari rasio pajak terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berkisar di angka 12 persen, salah satu angka yang terrendah di Asia.

“Ada banyak ruang untuk memperbaiki administrasi pajak dan mengembangkan lebih luas lagi potensi pajak, tapi saya mengerti bahwa pemerintah harus bergerak dengan hati-hati agar tidak merusak iklim bisnis dan ekonomi secara umum,” kata Wapres, Kamis (28/2) kemarin. Pihaknya memaparkan, dari sekitar 17 juta pekerja, hanya seperlima yang memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak dan dari jumlah itu lebih sedikit lagi yang membayar pajak.

Ada pula masalah pada perbaikan sistem belanja negara, termasuk rasionalisasi sistem subsidi. Selama beberapa dekade, Indonesia mempraktekkan fiskal yang konservatif. Defisit anggaran hanya 1,2 persen dari PDB pada 2012 dan pada 2013 diperkirakan 1,63 persen, yang merupakan terrendah di Asia. Sementara itu, utang luar negeri Indonesia hanya 25 persen dari PDB dan angka ini terus turun. “Indonesia mungkin adalah bagian dari sangat sedikit negara di mana kehati-hatian fiskal (fiscal prudence) didukung oleh semua partai politik,” ungkapnya.

Wapres mengatakan, meski Pertumbuhan RI kini telah mencapai 6 persen, namun angka tersebut belum cukup untuk menangani berbagai tantangan yang harus dihadapi seperti pengangguran dan penurunan angka kemiskinan. Namun, ia percaya solusinya terletak pada hal struktural, terutama pada pengembangan infrastruktur yang saat ini menjadi prioritas pemerintah untuk ditangani.

Oleh karenanya. Pemerintah terus berupaya dalam mengakselerasi pembangunan infrastruktur, dengan menunjuk pada model kerjasama antara Badan Usaha Milik Negara dan dunia swasta di bidang energi dan pelabuhan yang dirasa berhasil. “Model (kerja sama) seperti ini bisa diulang pada sektor-sektor lain agar lebih banyak lagi (infrastruktur) yang bisa dibangun dan diperbaiki,” tegasnya. (ak)