Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN
Panel Sesi 2 #AIFC2019: Opportunity and Challenges meghadirkan M. Azmi Omar (INCEIF); Matthew Martin (Blossom Finance); Dwi Irianti Hadiningdyah (DJPPR) dan; Adiwarman Karim, serta Sutan Emir Hidayat sebagai moderator.
Judul : Blending Islamic Finance dan Impact Investment untuk Pembangunan Berkelanjutan
Tanggal : 24/07/2019 12:00:05
Kontak : Pusat Kebijakan Sektor Keuangan Badan Kebijakan Fiskal, Telp. 021 348 33208, email: syariah@fiskal.kemenkeu.go.id

Blending Islamic Finance dan Impact Investment untuk Pembangunan Berkelanjutan

Surabaya, 24 Juli 2019 – 4th Annual Islamic Finance Conference (4th AIFC) diselenggarakan pada tanggal 24 – 25 Juli 2019 di Surabaya, Jawa Timur mengusung tema “Blending Islamic Finance and Impact Investing for SDGs”. Konferensi ini bertujuan untuk mendorong diskusi terkait kontribusi dan kolaborasi keuangan syariah dengan impact investment, serta perannya dalam mencapai sasaran yang tercantum dalam SDGs.

Dalam sambutannya, Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia menyampaikan bahwa keuangan syariah memiliki potensi peran yang besar dalam impact investment. “Tujuan investasi syariah adalah untuk mencapai hal yang baik dan menghindari hal yang haram, serta adanya kewajiban mengeluarkan zakat kepada yang berhak. Hal ini sejalan dengan impact investing yaitu tujuan bisnis tetap tercapai dan bisa memberikan manfaat kepada masyarakat dalam mencapai SDGs” ujar Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo. Selain itu, beliau juga menyampaikan dana sosial yang dikelola secara syariah dalam bentuk cash waqf, hasilnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas masyarakat seperti sanitasi, nutrisi ibu dan anak. Sementara konsep impact investment dalam keuangan syariah diwujudkan Pemerintah dalam penerbitan green sukuk yang digunakan untuk membangun 727 km jalur kereta double-track, pengelolaan sampah untuk 3,4 juta rumah tangga, dan 121 pembangkit listrik mini tenaga matahari.

Berbagai negara saat ini sedang fokus untuk mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals /SDGs) sebagai agenda dunia pembangunan untuk kemaslahatan manusia dan planet bumi. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan biaya yang tidak sedikit. World Investment Report 2014 melaporkan bahwa untuk mencapai 17 sasaran dalam SDGs, negara berkembang masih membutuhkan tambahan investasi sebesar US$ 2,5 triliun setiap tahunnya. Tambahan investasi ini tidak dapat diperoleh hanya dengan mengandalkan model investasi tradisional. Inovasi menjadi hal yang mutlak untuk dilakukan dan peran dari sektor privat perlu untuk ditingkatkan. Salah satu inovasi tersebut diwujudkan dalam bentuk impact investment.

Impact investment merupakan investasi yang diniatkan tidak hanya untuk mendapatkan keuntungan atau pengembalian finansial, tetapi juga diharapkan dapat memiliki dampak sosial atau lingkungan. Impact investment dan keuangan syariah memiliki prinsip yang sama. Keduanya berusaha untuk mencapai tujuan bisnis dengan cara yang baik serta memberikan keuntungan bagi masyarakat dan lingkungan secara keseluruhan.

Dalam pidatonya, Wahid Abdelwahab, Direktur Jenderal Country Relations and Services Islamic Development Bank menyampaikan bahwa memadukan potensi keuangan Islam dan impact investing dapat memobilisasi sumber keuangan tambahan untuk pembangunan berkelanjutan, meningkatkan dampak sosial, lingkungan, dan keuangan dari investasi melalui peningkatan koordinasi, dan percepatan kemajuan menuju Agenda 2030.

Menurut Christophe Bahuet, UNDP Indonesia Resident Representative, mengatakan pembiayaan adalah bagian penting untuk pencapaian agenda SDGs pada tahun 2030. Bauran pembiayaan syariah dan impact investment dapat menciptakan peluang besar untuk mengatasi kesenjangan pembiayaan SDGs. UNDP menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Indonesia atas penyelenggaraan konferensi ini bekerja sama dengan UNDP dan para mitra lainnya. “Kami harap konferensi ini akan mendorong pemanfaatan potensi pembiayaan syariah sepenuhnya untuk pencapaian SDGs di Indonesia. UNDP menawarkan berbagai platform untuk mengidentifikasi solusi yang sangat dibutuhkan untuk pembiayaan SDGs dan kami harap semakin banyak mitra dapat bergabung untuk memastikan keberhasilan upaya ini.” ujar Christophe Bahuet.

AIFC adalah acara tahunan yang menghadirkan para pembuat kebijakan, ekonom, akademisi, dan pelaku industri baik dari dalam negeri maupun dari internasional untuk mendiskusikan berbagai isu ekonomi dan keuangan syariah.

Konferensi ini diselenggarakan berkat kerjasama antara Kementerian Keuangan, Islamic Development Bank Group (IsDBG), Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS), Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), United Nations Development Programme (UNDP), the World Bank, dan Universitas Airlangga.Penyelenggaran seminar kali ini juga dilengkapi dengan Call for Paper yang merupakan ajang untuk menuangkan gagasan dalam upaya meningkatkan peran keuangan syariah dalam mencapai SGDs.

***
Nufransa Wira Sakti
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi
Kementerian Keuangan
  • Siaran Pers Blending Islamic Finance dan Impact Investment untuk Pembangunan Berkelanjutan Unduh