Jl. Dr.Wahidin Raya No 1 Jakarta 10710
134 ID | EN
Judul : Memperluas Basis Investor Domestik Melalui Pembiayaan yang Kreatif dan Inovatif untuk Kemandirian APBN
Tanggal : 03/12/2018 19:09:58
Kontak : Biro Komunikasi dan Layanan Informasi; Jl. Wahidin Raya No. 1 Jakarta 10710; Tlp (021) 3449230 Fax (021) 3500847

Memperluas Basis Investor Domestik Melalui Pembiayaan yang Kreatif dan Inovatif untuk Kemandirian APBN

 

Jakarta, 3 Desember 2018 – Kinerja pengelolaan APBN 2018, berdampak signifikan terhadap menurunnya kebutuhan pembiayaan melalui utang.  Dengan outlook defisit APBN 2018 sebesar 1,98 persen dari PDB, utang baru (new debt) di tahun 2018 dapat dikurangi hingga Rp30 triliun. Pemenuhan pembiayaan utang tahun ini juga didukung oleh implementasi strategi pengelolaan utang melalui fleksibilitas penggunaan berbagai alternatif instrumen. Di tahun 2018, hal ini telah diwujudkan dengan memanfaatkan potensi pinjaman program dengan biaya yang relatif murah dan mengurangi penerbitan SBN di pasar domestik di tengah meningkatnya tekanan pasar yang berdampak pada kenaikan tingkat bunga dan pelemahan nilai tukar.


Tekanan terhadap pasar keuangan masih berlanjut. Tahun 2018 yang diwarnai dengan tren kenaikan Fed Fund Rate dan peningkatan yield US Treasury seiring peningkatan Indeks Dollar AS di pasar keuangan yang berdampak pada kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) diperkirakan berlanjut di tahun 2019. Di tahun 2019 nanti diperkirakan terdapat berbagai tantangan yang akan dihadapi baik dari sisi internal, seperti tekanan defisit neraca transaksi berjalan, maupun dari sisi eksternal, seperti kebijakan normalisasi moneter dan kebijakan ekspansif fiskal di Amerika Serikat serta berbagai situasi geopolitik global yang diperkirakan masih memberi tekanan terhadap pasar keuangan.


Dalam menghadapi risiko di tahun 2019 tersebut, Pemerintah telah menyusun APBN 2019 yang sehat, adil, dan mandiri. Hal tersebut ditandai dengan defisit APBN yang ditargetkan semakin menurun, yaitu sebesar 1,84 persen terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dan keseimbangan primer yang semakin mendekati positif. Penurunan defisit tersebut diikuti dengan pertumbuhan pembiayaan utang yang cenderung menurun sejak tahun 2015, bahkan tumbuh negatif di tahun 2018 dan diharapkan akan berlanjut pada tahun  2019.


Untuk mendukung tujuan tersebut Pemerintah telah menyusun strategi pemenuhan pembiayaan utang APBN 2019 yang komprehensif dan bersifat hati-hati (prudent). Dalam APBN 2019, pembiayaan utang neto ditetapkan sebesar Rp359,25 triliun, menurun dibandingkan angka dalam APBN 2018 sebesar Rp399,18 triliun. Pembiayaan tersebut direncanakan akan dipenuhi dari utang dalam denominasi valuta asing (valas) dan dalam denominasi rupiah, baik berupa Surat Berharga Negara (SBN) maupun Pinjaman. Adapun penerbitan SBN secara bruto untuk tahun 2019 mencapai Rp825,70 triliun, menurun dibandingkan target pada APBN 2018 sebesar Rp856,49 triliun. Demikian pula halnya dengan SBN secara neto untuk tahun 2019 yang ditargetkan sebesar Rp388,96 triliun, menurun dibandingkan target APBN 2018 sebesar Rp414,52 triliun. Kebutuhan pembiayaan tahun 2019 ini akan dipenuhi melalui:


1.    Lelang Surat Utang Negara (SUN) dan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) masing-masing akan diadakan sebanyak 24 kali.

2.    Mekanisme non-lelang yang akan dilakukan melalui metode bookbuilding untuk penerbitan SBN ritel dan penerbitan SBN dengan metode Private Placement berada dalam kisaran 22 persen hingga 24 persen dari SBN bruto.

3.    Penerbitan SBN valas yang direncanakan dalam kisaran 14 persen hingga 17 persen dari SBN bruto serta dapat disesuaikan dengan potensi sumber pembiayaan lainnya dan kebutuhan pembiayaan.  SBN valas akan diterbitkan sebagai komplementer untuk menghindari crowding out di pasar domestik serta menjaga keberadaan di pasar modal internasional.

4.    Fleksibilitas pemanfaatan sumber-sumber pembiayaan utang untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan APBN yang tetap dijalankan Pemerintah dalam rangka mengantisipasi kondisi pasar keuangan yang cenderung rentan. Komposisi SUN (70 persen hingga 75 persen dari SBN Bruto) dan SBSN (25 persen hingga 30 persen dari SBN Bruto) dapat disesuaikan dengan mempertimbangkan kondisi pasar keuangan.

5.    Pinjaman Luar Negeri dan Pinjaman Dalam Negeri yang berfungsi sebagai pelengkap, baik dalam bentuk pinjaman program maupun pinjaman proyek. Pada tahun 2019, Indonesia akan mendapat bantuan pinjaman dari beberapa mitra lembaga multilateral, seperti Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, yang ditujukan untuk pembangunan daerah terkena bencana alam di Lombok dan Sulawesi Tengah.


Strategi di atas dilandasi oleh kebijakan pembiayaan utang yang diarahkan pada pengelolaan pembiayaan utang secara prudent dan akuntabel. Kebijakan tersebut dilakukan dengan menjaga rasio utang terhadap PDB pada level yang aman, memanfaatkan utang untuk kegiatan yang produktif, menjaga komposisi utang dalam batas yang terkendali, dan menjaga solvabilitas.


Dalam mendukung kemandirian APBN, Pemerintah melanjutkan inovasi pembiayaan melalui penerbitan seluruh SBN ritel dengan format online serta model pembiayaan kreatif lainnya. Penerbitan SBN ritel secara online dilakukan dengan pertimbangan untuk meningkatkan peran serta investor domestik, khususnya investor ritel, searah dengan strategi pengurangan kepemilikan asing atas SBN dan pengendalian utang valas. Lebih jauh, inovasi lain yang dilakukan Pemerintah adalah memberikan akses khusus bagi Lembaga Keuangan Mikro dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta lembaga filantropi termasuk lembaga pengelola dana wakaf untuk berinvestasi di SBSN melalui instrumen Waqf Linked Sukuk. Selain itu Pemerintah berencana untuk meneruskan penerbitan Green Sukuk yang telah sukses diluncurkan sebelumnya.


Capaian dalam menjaga pemenuhan pembiayaan APBN selama ini yang efisien dan aman tidak terlepas dari dukungan mitra kerja Pemerintah. Pemerintah memberikan apresiasi berupa penghargaan kepada mitra kerja terbaik dalam pengelolaan SUN dan SBSN. Penghargaan terbaik yang diberikan dalam pengelolaan SUN, khususnya untuk kinerja di tahun 2017, adalah:

1.    Dealer Utama SUN terbaik, kepada:

•    PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk.

•    Citibank, N.A.

•    PT Bank Mandiri (Persero), Tbk.

•    PT Trimegah Sekuritas Indonesia, Tbk.

2.    Dealer Utama SUN dengan kinerja terbaik di pasar perdana, kepada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk.

3.    Dealer Utama SUN dengan kinerja terbaik di pasar sekunder, kepada PT Bank Central Asia, Tbk.

4.    Agen Penjual Obligasi Negara Ritel (ORI) terbaik, kepada:

•    PT Bank Central Asia, Tbk.

•    PT Bank Danamon Indonesia, Tbk.

•    PT Bank OCBC NISP, Tbk.

Sementara itu, penghargaan terbaik yang diberikan dalam rangka pengelolaan SBSN, khususnya untuk kinerja di tahun 2018, adalah:

1.    Peserta Lelang SBSN terbaik, kepada:

•    PT Bank Central Asia, Tbk.

•    PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk.

•    PT Bank Permata, Tbk.


2.    Agen Penjual terbaik Sukuk Negara Ritel (Sukri) seri SR-010, kepada:

•    PT Bank Central Asia, Tbk.

•    PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.

•    PT Bank Syariah Mandiri.


Pemberian penghargaan bagi yang mitra kerja yang berkinerja terbaik ini diharapkan menjadi pemacu semangat bagi para mitra kerja Pemerintah untuk semakin meningkatkan kinerjanya dan memberikan yang terbaik bagi tanah air.



Nufransa Wira Sakti
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan informasi
Kementerian Keuangan

  • Siaran Pers Memperluas Basis Investor Domestik Melalui Pembiayaan yang Kreatif dan Inovatif untuk Kemandirian APBN Unduh